counter Anak Berani Menjawab Teguran Orang Tua, Jangan Langsung Dianggap Keras Kepala – Sami Share

Info

Anak Berani Menjawab Teguran Orang Tua, Jangan Langsung Dianggap Keras Kepala

on

Tak sedikit orang tua yang memberikan cap keras kepala pada anak saat anak berani menjawab teguran orang tua.

Untuk urusan memarahi atau sekedar menegur anak, biasanya kebanyakan orang tua merasa paling memiliki wewenang. Dalam kondisi tersebut harapan orang tua rata – rata sama, yakni anak diam, mendengarkan, mengangguk, lalu mematuhi. Faktanya, tidak semua anak bersikap begitu. Tidak sedikit anak berani menjawab teguran orang tua bahkan ada juga yang cenderung menentang. Bagaimana orang tua menghadapi situasi semacam itu? Haruskan orang tua bersikukuh dengan kemarahannya, atau ada cara lain yang lebih baik dan bisa diterima anak?

Enggak ma, bukan aku. Kalau enggak dia duluan yang nakal, aku juga enggak balas“. jawab si anak saat sang ibu menyebutnya nakal karena sudah bikin temannya nangis. Atau;

Kan, kemarin papa juga makan minum sambil berdiri” si anak ngeles saat ayahnya mengingatkan tidak baik minum sambil berdiri.

Apapun latar belakangnya, keadaan serupa hampir selalu dialami setiap orang tua. Merasa lebih tahu dan paling benar, orang tua akan merasa tidak senang bila anaknya menjawab saat ditegur. Inginnya, anak diam, mengangguk, dan nurut saja tanpa protes. Saat anak berani menjawab teguran orang tua, anak dianggap keras kepala, nakal, tidak sopan, suka membantah dan tidak mau mendengar nasihat.

Tapi, benarkah demikian? Benarkah anak itu keras kepala saat berani menjawab teguran orang tua?

Jawabannya: belum tentu. Mari kita berpikir sama – sama dari sudut lain. Namun, sebelumnya silahkan buang dulu anggapan – anggapan negatif di atas dari pikiran Anda sebagai orang tua. Pemikiran semacam itu sudah bukan jamannya lagi alias kuno. Dalam ilmu Parenting atau ilmu tentang cara mengasuh dan mendidik anak yang benar, hal tersebut merupakan tindakan yang perlu dijauhi.

anak-menjawab-teguran-orang-tua

Sekarang bukan jamannya lagi anak dipaksa untuk diam dan mengangguk saat orang tua memberikan teguran. Jadi, jangan buru – buru memberikan cap keras kepala saat anak berani menjawab teguran orang tua. Bisa jadi, keberanian anak melakukan hal tersebut didasari berbagai argumen atau perasaan lain yang tidak disadari orang tua. Akan lebih baik bila orang tua melakukan evaluasi dan interopeksi diri dulu. Karena bisa jadi, tindakan yang dilakukan anak terkadang diilhami oleh tingkah laku orang tua juga. Pahami juga alasan mengapa anak berani menjawab teguran orang tua. Adakah maksud yang ingin disampaikan?

Seiring dengan perkembangan usia anak, pola berpikir anak pun semakin berkembang. Anak makin memiliki kemampuan berbicara secara baik. Pengaruh eksternal juga semakin beragam seperti lingkungan pergaulan dengan teman sebayanya, lingkungan sekolah, dan lingkungan sekitar rumah tempat tinggal. Banyaknya referensi yang didapat anak membuat anak memiliki pandangan dan penilaian sendiri terhadap segala sesuatu. Keberanian anak menyampaikan sesuatu secara verbal juga semakin besar. Termasuk di dalamnya menjawab teguran orang tua bila memang bertentangan dengan kata hati anak.

Ada kemungkinan besar anak memiliki alasan dan maksud yang ingin disampaikan saat dia berani menjawab teguran orang tua.

Pertama; Anak ingin dimengerti

Usia anak yang semakin bertambah besar membuat anak tidak ingin lagi dianggap sebagai anak kecil dan selalu over protections. Bila selama ini anak terlalu dibatasi aktivitas dan minatnya, suatu ketika pasti mencari saat yang tepat untuk menyalurkan rasa kesal dihatinya. Jadi, mulai mengertilah dengan minat dan aktivitas anak. Asalkan bukan sesuatu yang menjerumuskan kedalam bahaya, biarkan anak berkreasi.

Kedua; Menyampaikan Perasaannya

Usia anak – anak adalah usia ekspresif. Terkadang apa yang disampaikan orang tua akan ditimpali dengan respon tertentu secara cepat. Sebagai orang tua sebaiknya jangan cepat marah, lalu menyebutnya keras kepala. Bisa jadi respon anak menjawab teguran orang tua adalah ungkapan perasaannya seperti rasa sedih, kecewa, atau rasa tidak terima karena teguran orang tua dinilai anak salah alamat.

Ketiga; Anak cerdas

Ada kemungkinan anak berani menjawab teguran orang tua karena dia anak cerdas. Dia memiliki pikiran yang kritis sehingga tidak langsung menganggukkan kepala. Dia bisa memberikan argumen atas apa yang dilakukannya. Dia juga akan mencari penjelasan mendetail bila yang dilakukannya dilarang. Mengapa tidak boleh, apa alasannya, bagaimana solusinya dan yang lain. Kebiasaan mencari jawaban hingga detail membantunya melatih diri bertahan pada pendapat yang diyakini kebenarannya.

Bila ada kemungkinan semacam ini, seyogyanya orang tua tidak menyebutnya sebagai anak keras kepala saat berani menjawab teguran orang tua. Cobalah dengan cara halus seperti mengajaknya berdiskusi. Berikan kesempatan anak untuk presentasi dan menyampaikan pendapatnya secara detail. Bila pun masih ada kekurangannya, berikan anak solusi atau pendapat lalu serahkan keputusannya pada anak. Dengan begitu, anak akan terlatih sejak dini menjadi tangguh menghadapi orang lain yang memiliki pendapat berbeda.

Satu hal yang penting dan harus diperhatikan orang tua adalah cara anak menjawab teguran. Meski orang tua memberikan kelonggaran untuk berbeda pendapat pada si anak, bukan berarti anak harus dibiarkan lupa etika. Cara menjawab anak tetap harus dijaga pada etika kesopanan. Jangan berteriak, membentak, marah – marah, atau dengan melotot, mengeluarkan kata – kata kasar.

Orang tua juga harus dengan sabar membimbingnya. Dengar dan lihat dulu bagaimana sikap anak saat menjawab teguran orang tua. Bila kurang sopan, sampaikan dengan bijak bahwa cara anak itu salah, lalu berikan contoh. Lambat laun bila orang tua melakukannya dengan sabar dan kontinyu, in syaa Allah anak juga akan nurut dan bisa menjaga nilai etika dalam berpendapat.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *