Mingi, Tradisi Sadis dan Kejam Suku Di Ethiopia

Bayi-bayi itu dicampakkan sendirian di rawa-rawa, dibiarkan mati kelaparan atau dimakan binatang buas. Ada yang dilemparkan hidup – hidup ke sungai menjadi santapan buaya – buaya kelaparan.

Itulah tradisi sadis, kejam dan mengerikan yang masih berlangsung hingga kini di sebuah suku di Ethiopia. Tidak ada nama untuk tradisi tersebut, tapi mereka menyebutnya dengan Mingi. Padahal Mingi adalah sebutan anak atau bayi malang yang terpaksa harus meregang nyawa tanpa pernah tahu apa salah dan dosanya.

Adalah suku Karo dan Hamer, dua suku terpencil di pedalaman Ethiopia yang masih memegang teguh sebuah kepecayaan bahwa anak-anak atau bayi-bayi yang lahir dalam keadaan tidak sempurna dikarenakan cacat dapat memberi pengaruh jahat pada orang lain. Karena itu, bayi yang lahir dalam keadaan cacat harus segera dibunuh tanpa belas kasihan dan tanpa pemakaman yang layak. Mereka menyebut bayi cacat itu dengan Mingi alias bayi pembawa sial.

Seperti dikutip dari Dailymail, salah satu wanita suku Karo, Buko Balguda bahkan pernah kehilangan 15 bayinya karena dianggap Mingi. Kepala suku mengharuskan membunuh 15 bayi Buko Balguda agar desanya tidak mendapat kutukan.

Buko Balguda, Wanita yang harus kehilangan 15 anaknya karena dianggap Mingi

“Saya memiliki tujuh bayi laki-laki dan delapan bayi perempuan. Di masa itu, tradisi suku kami masih sangat keras. Saya menghormati tradisi ini, sehingga membiarkan mereka membunuh anak-anak saya,” kata Buko.

“Dulu saya menuruti kemauan kepala suku karena tidak punya pilihan. Namun sekarang, setiap kali melihat wanita melahirkan dan memberikan susu untuk bayinya, saya sangat menyesal. Saya merasa kesepian. Tidak ada anak yang ada di sisi saya,” tambah Buko.

Lantas seperti apa anak-anak dan bayi yang dianggap Mingi oleh sukunya ?

Mereka yang dianggap Mingi adalah yang memiliki kriteria tertentu seperti lahir tanpa ijin kepala suku alias tidak dikehendaki kepala suku, lahir dengan cacat fisik apapun bentuknya, bayi yang gigi pertamanya tumbuh di rahang atas, bayi kembar atau bayi yang lahir dari seorang ayah yang gagal melakukan tradisi lompat kerbau sebelum menikah.

Anak - anak dinyatakan Mingi karena terlahir sebagai anak kembar

Bila kepala suku sudah mengatakan sebagai Mingi, mau tidak mau bayi cacat harus segera dibunuh dan tidak boleh ada seorang pun yang menghalangi termasuk ayah ibunya. Pembunuhan dilakukan dengan cara yang sangat kejam seperti dilempar kedalam sungai penuh buaya, ditinggalkan di rawa-rawa sendirian agar mati kelaparan atau dimakan binatang buas, atau ditenggelamkan di danau, dan tidak boleh ada pemakaman yang layak.

Sungai Omo, tempat bayi Mingi dilempar dijadikan santapan buaya

Setidaknya ada 300 bayi setiap tahunnya yang harus mati sia – sia karena dianggap Mingi.

Namun, seiring berkembangnya jaman, para penduduk suku di Ethiopia berangsur – angsur meninggalkan tradisi ini karena sadar bahwa tradisi yang telah berjalan turun temurun adalah sangat kejam, tidak manusiawi dan harus ditinggalkan.

Pemerintah Ethiopia juga turun tangan dan telah melarang tradisi kejam ini. Meskipun pada kenyatannya, masih banyak suku-suku di pedalaman yang secara diam-diam terus membunuh bayi-bayi yang dianggap Mingi oleh mereka. Guna menekan jatuhnya lebih banyak korban tak berdosa, beberapa panti asuhan dan lembaga-lembaga sosial bahkan bersedia menampung bayi-bayi yang tidak diharapkan hidup oleh penduduk desanya untuk dibesarkan.

Anak kembar yang sangat beruntung, hidup dan tumbuh besar karena kebanyakan anak kembar dinyatakan sebagai Mingi

Ya, banyak penduduk suku yang mendukung program pemerintah dan merelakan berpisah dengan anaknya agar anaknya bisa hidup, tumbuh besar sebagaimana anak-anak yang lain dari pada melihat anaknya mati mengenaskan karena ketidakmampuannya menentang tradisi yang ada dalam sukunya.

Advertisements
--------------------
Semoga artikel di atas bermanfaat ! Jika Anda memiliki pendapat berbeda atau memiliki informasi lebih akurat dari artikel di atas, silahkan berbagi disini bersama kami.

1 Comment
  1. 1 year ago
    teguh

    sungguh sadis… masa melahirkan n ppunya anak harus izin kepala suku..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *