counter Mengenal Proses Pembuatan Tempe Tradisional – Sami Share

Info

Mengenal Proses Pembuatan Tempe Tradisional

on

Tempe, hmmm… siapa tak kenal dengan makanan satu ini. Makanan berbahan dasar kedelai ini sangat populer di Indonesia dan cukup dikenal dunia sebagai makanan asli Indonesia. Kandungan proteinnya yang melimpah dan rasanya yang khas membuat tempe sangat digemari hingga menjadi makanan favorit. Bila banyak orang sudah paham rasanya tempe dengan segala olahannya, tidak begitu dengan proses pembuatannya. Masih banyak orang yang belum mengetahui proses pembuatan tempe dan cara membuat tempe itu sendiri.kedelai-bahan-baku-proses-pembuatan-tempe

Secara garis besar, proses pembuatan tempe dibagi menjadi dua, yaitu cara tradisional dan modern. Cara modern dilakukan dengan melibatkan teknologi sejak mulai proses pemasakan, penggilingan kedelai, pencampuran ragi, pengemasan hingga proses pengaturan suhu saat fermentasi.

Bagi sebagian besar pembuat tempe di Indonesia, proses pembuatan tempe secara modern ini masih sangat jarang. Bisa jadi hal ini karena kuantitas produksi tempe masih bisa teratasi dengan cara tradisional. Bisa juga karena mahalnya berbagai mesin produksi dirasa tak sesuai dengan perhitungan harga jual.

Yang paling umum, cara membuat tempe dilakukan secara tradisional. Lebih mengandalkan tenaga manusia untuk semua proses. Namun hal ini tidak berpengaruh pada kualitas gizi tempe itu sendiri. Tempe yang dihasilkan tetap menjadi tempe yang memiliki gizi luar biasa. Yang berbeda hanyalah dari segi rasa. Meski bahan baku yang digunakan sama yaitu kedelai, air, ragi tempe dan air janton, tempe yang dihasilkan antara satu produsen dengan produsen lain bisa sedikit berlainan rasa tergantung proses yang dilakukan oleh masing-masing pembuatnya.

Secara terperinci, berikut tahapan proses pembuatan tempe secara tradisional.

Pertama; Membersihkan kedelai

Proses pembuatan tempe yang pertama adalah membersihkan kedelai. Dilakukan dengan cara dicuci menggunakan air bersih sampai semua kotoran seperti sisa daun, potongan kayu serta debu hilang dan kedelai terlihat bersih.

Kedua; Merebus kedelai

Setelah dicuci bersih, kedelai direbus menggunakan air bersih dengan perbandingan 1:2 hingga benar-benar masak. Mengapa harus dengan perbandingan 1:2 ? Kedelai akan mengembang hingga 100% saat direbus hingga matang. Bila air terlalu sedikit, kedelai tidak bisa mengembang dengan maksimal.

Ketiga; Merendam kedelai

Setelah matang, kedelai kemudian direndam dalam wadah dengan menambahkan air bersih dan sedikit air janton tempe. Air janton tempe adalah air sisa rendaman kedelai pada hari sebelumnya. Penambahan air janton tempe saat merendam bertujuan agar tempe yang dihasilkan memiliki rasa yang khas tempe sama dengan hari sebelumnya. Perendaman dilakukan antara 18 hingga 20 jam sampai air rendaman benar – benar mengental.

Keempat; Menggiling kedelai

Proses berikutnya adalah menggiling kedelai agar biji – biji kedelai yang telah matang terbelah menjadi dua.

Kedelai diangkat dari wadah rendaman dan dimasukkan ke dalam alat penggilingan. Beberapa pembuat tempe melakukan proses penggilingan kedelai ini menggunakan mesin penggiling dengan tenaga diesel. Tujuannya adalah untuk menghemat tenaga dan waktu. Namun, tak sedikit pembuat tempe yang masih menggunakan cara lama yaitu menggiling kedelai dengan diinjak-injak menggunakan kaki.

Sambil digiling, kedelai terus disiram air bersih hingga benar – benar bersih. Kedelai yang sudah bersih akan terasa kesat, tidak lagi ada lumer atau lendir sisa rendaman.

Kelima; Mengukus kedelai

Bila sudah benar – benar bersih, kedelai kemudian dikukus dengan panci sarangan atau dandang kukusan. Tujuannya untuk menghilangkan kadar air sisa bilasan usai digiling dan mengurangi aroma tak sedap usai direndam semalaman.

Pengukusan dilakukan hingga kedelai benar – benar panas dan kedelai tidak lagi terlihat basah.

Keenam; Mendinginkan kedelai

Setelah kedelai panas dan tidak lagi terlihat basah, kedelai kemudian didinginkan. Kedelai diangkat dari panci lalu diratakan di tempat pendinginan. Bisa menggunakan tampah, bisa menggunakan tikar plastik, bisa juga langsung diratakan di lantai yang bersih. Tunggu hingga kedelai benar – benar dingin sebelum proses berikutnya.

Ketujuh; Mencampur kedelai dengan ragi tempe

Setelah kedelai dingin, kedelai kemudian dicampur dengan ragi tempe. Bila jaman kakek nenek dulu ragi tempe harus membuat sendiri menggunakan inang dan dedaunan, sekarang tidak lagi. Ragi tempe sudah tersedia dan dijual di pasaran dalam bentuk kemasan dengan merek RAPRIMA.

raprima-ragi-tempe

Ragi tempe ditaburkan pada kedelai dingin lalu dicampur hingga merata. Untuk takaran banyak sedikitnya ragi yang dicampurkan disesuaikan dengan kondisi suhu masing – masing daerah. Di daerah panas proses fermentasi akan lebih cepat dari daerah bersuhu dingin. Karena itu pemberian ragi lebih sedikit. Sedangkan di daerah bersuhu dingin proses fermentasi lebih lambat. Jadi, untuk pemberian ragi juga lebih banyak.

Penelitian dilakukan samishare di daerah Bandungan Kabupaten Semarang yang bersuhu dingin. Untuk setiap 20 kg kedelai dingin dicampur ragi tempe sebanyak 2 sendok makan penuh.

Kedelapan; Pengemasan

Proses pembuatan tempe berikutnya adalah pengemasan. Dilakukan setelah kedelai dicampur dengan ragi. Ada dua cara variasi pengemasan kedelai untuk dijadikan tempe yang umum dilakukan pembuat tempe, yaitu menggunakan daun dan menggunakan plastik. Masing – masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tempe yang dikemas menggunakan daun cenderung memiliki rasa lebih lezat. Kekurangannya, daun untuk bungkus tempe makin sulit didapat. Sedangkan yang menggunakan kemasan plastik selain praktis juga lebih mudah mendapatkannya karena banyak tersedia di toko-toko plastik.

Kedelai dikemas sesuai ukuran besar kecil atau panjang pendek yang diinginkan. Disesuaikan pula dengan harga jual ke konsumen.

Penting : Proses fermentasi memerlukan udara. Bila dikemas dengan plastik, plastik harus dilubangi kecil – kecil secara merata agar udara bisa masuk dan proses fermentasi bisa sukses.

Kesembilan; Memeram tempe atau menyimpan hingga kapang tumbuh merata

Setelah dikemas, tempe yang masih berupa kedelai kemudian diperam atau disimpan hingga jadi. Simpan dengan cara dijejer dan bukan ditumpuk. Antara satu bungkus dengan yang lain diberi sedikit rongga agar tempe bisa mengembang sempurna. Lamanya memeram atau penyimpanan memakan waktu antara 35 hingga 40 jam. Jamur tempe atau kapang akan tumbuh merata dan tempe yang sebelumnya masih berupa butiran kedelai akan merekat satu sama lain dan berwarna putih.

Kesepuluh: Tempe sudah jadi dan siap dikonsumsi

Apabila jamur tempe atau kapang sudah merata dan tempe sudah berwarna putih, itu tandanya tempe sudah siap dijual dan sudah siap diolah untuk dikonsumsi.

Tempe bisa diolah menjadi beraneka masakan dengan beragam variasi memasak seperti digoreng, disantan, disambal, disteam, dimasak kuah atau yang lain. Bisa juga dibuat makanan ringan seperti keripik tempe dengan aneka rasa.

Kesepuluh tahapan cara membuat tempe tradisional di atas tidak semua dilakukan oleh para produsen tempe. Karena pada dasarnya proses pembuatan tempe hanya memerlukan 5 tahapan pokok saja, yaitu:

  1. Merebus kedelai
  2. Merendam rebusan kedelai
  3. Menggiling rendaman kedelai
  4. Mencampur kedelai yang sudah digiling dengan ragi tempe
  5. Mengemas kedelai yang sudah dicampur ragi

Sedangkan tahapan yang lain hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas tempe terutama dari sisi rasa dan daya tahan.

Recommended for you

1 Comment

  1. Pingback: Mengapa Tempe Baru Tapi Rasanya Seperti Basi - Sami Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *