Terima Kasih, Asya Dan Anisa

Tak disangka pagi tadi saya kedatangan orang tamu. Namanya Asya dan Anisa, cowok dan cewek mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi di Semarang yang sedang mengikuti program KKN dari kampusnya.

Entah siapa yang kasih tahu kalau di rumahku ada usaha produksi tempe. Yang pasti kedatangan mereka berdua mau mengorek berbagai informasi soal tempe, makanan tradisional indonesia yang konon telah mendunia.

Sambil ngalor ngidul tanya soal tempe, tak lupa mereka buat dokumentasi jepret sana jepret sini semua objek yang berkaitan dengan produksi tempe mulai dari bahan baku, cara masak, hingga pengemasan.

Sampai akhirnya mereka berdua pamit setelah hampir dua jam di tempat saya, ada dua hal yang agak menggelitik diri saya. Bukan soal tempe tapi soal yang lain.

Pertama;

Anisa ternyata tak bisa berbahasa Jawa karena dia asli Bekasi. Meski sudah dipancing – pancing, tidak banyak kosa kata dalam dirinya tentang bahasa Jawa. Adanya cuma “inggih” sama “matur nuwun”. Lain halnya sama Asya, cowok berbadan subur ini asli Semarang. Jadi, bukan persoalan saya ajak bicara pake bahasa Jawa. Menurut Asya, bahasa Jawa memang diajarkan di kampusnya, hanya saja penyampaian materinya menggunakan bahasa Indonesia.

Weee, ternyata gitu toh. Wajar bila banyak mahasiswanya yang berasal dari luar Jawa tidak cepat lancar berbahasa Jawa meski sudah hampir empat tahun. Boro – boro sampai harus yang bahasa Jawa krama “inggil”, versi “ngoko”nya saja susah.

Harusnya, dosen pengajarnya menggunakan bahasa Jawa dari mulai awal masuk ruang kuliah hingga keluar termasuk saat menyampaikan materi seperti yang umum diterapkan saat kuliah materi bahasa Inggris.

Kedua;

Awalnya mereka berdua, terutama Anisa agak malu – malu dan enggan saat disuruh masuk ke dalam rumah. Mereka berdua baru mau masuk setelah agak sedikit dipaksa. Usut punya usut, Anisa memang tak terbiasa bertamu di rumah orang yang belum kenal sampai masuk ke dalam rumah. Jadi agak grogi juga.

Begitu pula saat saya suguhkan makanan dan minuman. Anisa makin heran. Katanya, kok bisa ya dengan tamu yang sama sekali belum kenal sampai dibuatin minuman sama disediakan banyak makanan yang menurutnya satu hal yang luar biasa. Tak pernah dia jumpai di daerahnya saat bertamu. Makanya, dia agak malu-malu juga untuk makan, meski akhirnya juga mau dan tak lagi sungkan.

Saya pikir, lagi – lagi ini hanya masalah adat saja. Kata Anisa, di kampung halamannya sono, orang bertamu yang belum dikenal pasti ditanya-tanyain dulu macam-macam saat masih di depan pintu gerbang. Kalau oke, baru dipersilahkan masuk dan duduk di teras. Jadi jarang sekali tamu masuk ke dalam rumah, apalagi sampai lebih dalam.

Beda sama tempat saya yang pedesaan. Kebanyakan orang menganggap seseorang dikatakan tamu kalau dia sudah mau masuk ke dalam rumah lalu duduk. Kalau tak mau masuk ke dalam rumah, namanya bukan tamu. Entah apa namanya yang pasti belum dikatakan tamu.

Hal menyenangkan lagi bagi umumnya tuan rumah di daerah saya yang kedatangan tamu adalah jika bisa menghidangkan suguhan makanan dan minuman, lalu tamunya berkenan makan dan minum tanpa ragu. Jangan heran kalau di bertamu desa lalu disuguhin minuman, Anda akan sedikit dipaksa untuk menghabiskannya tanpa sisa. Memang seperti itulah yang membuat hati tuan rumah senang dan bahagia.

Terlepas dari dua hal di atas, saya ucapkan terima kasih buat Asya dan Anisa. Kedatangan kalian berdua telah membawa kebahagiaan buat saya sekeluarga yang tidak bisa dilukiskan dengan kata – kata.

NB : Sayang, rendang jengkolnya tak tersentuh…

Advertisements
--------------------
Semoga artikel di atas bermanfaat ! Jika Anda memiliki pendapat berbeda atau memiliki informasi lebih akurat dari artikel di atas, silahkan berbagi disini bersama kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *