#6 Nasehat Dunia Kerja; Ibarat Padi, Makin Berisi Makin Merunduk

Ibarat Padi, Makin Berisi Makin Merunduk

Pemandangan yang paling terlihat saat guru gelas bertanya “Ayo, siapa yang bisa menjawab” adalah wajah murid-murid yang menunduk.

Bagi murid yang tidak memiliki jawaban menunduk bisa menjadi sebuah jawaban, dari pada harus bilang “saya tidak tahu, bu”.

Namun bagi murid yang memiliki jawaban, menunduk bisa jadi dilakukan karena sebuah alasan. Dia tidak mau dibully temannya karena dianggap pamer, sombong dan sok tahu. Akibatnya, kebiasaan itu terbawa sampai dunia kerja.

Weee … Kok bisa?

Banyak dari peserta meeting yang hanya berdiam diri saat atasan memberikan waktu untuk bertanya atau menanggapi sebuah persoalan. Mereka lebih memilih manut pada jawaban peserta lain atau pada gagasan atasan sendiri. Meski dalam hatinya dia mengatakan tidak setuju.

Padahal, yang lebih baik adalah sebaliknya. Orang lain tidak akan tahu seberapa kemampuan kita kalau kita tidak pernah menonjolkan diri dan tidak menunjukkan kemampuan. Hal itu bukan berarti sombong. Karir akan menanjak manakala orang lain, terutama atasan tidak mengetahui bahwa kita pantas untuk naik.

Contoh paling mudah ketika wawancara kerja. Kalau pelamar kerja tidak memiliki rasa percaya diri memberikan jawaban atau malu menunjukkan kemampuan yang dimiliki, pewawancara juga ragu untuk meloloskan. Pewawancara lebih suka calon pekerja yang mantap, penuh percaya diri serta bisa menjual potensi dirinya saat di wawancara.

Meski “menunduk” adalah kebiasaan kurang baik, bukan berarti Anda harus selalu menggembar-gemborkan kehebatan dan prestasi. Di sosmed selalu update status dan ngetweet. Di offline setiap kali ketemu rekan selalu berbicara tinggi-tinggi memamerkan kelebihan yang dimiliki. Itu sangat tidak baik dan mengganggu kenyamanan. Bisa-bisa hal itu jadi bumerang yang akan menghantam diri sendiri kelak.

Lakukan dengan porsi yang sewajarnya dan manakala memang dibutuhkan. Tidak perlu terlalu banyak didengung-dengungkan. Yang penting adalah memberikan bukti nyata dan hasil kerja. Tak perlu pula mengaku paling bisa saat Anda bekerja dengan tim, karena hasil kerja tim bukan hasil kerja Anda sendiri.

Bagaimana sebaiknya?

Nah, bagi Anda yang tidak suka berdiam diri atau terbiasa mengemukakan gagasan, sebaiknya ikuti langkah berikut :

  1. Tulis gagasan Anda pada kertas;
  2. Tulis kritik, saran dan penolakan yang mungkin muncul dari atasan atau rekan kerja;
  3. Rancang jawaban point 2 di atas dan tulis ;
  4. Setelah semua matang, temui atasan Anda dan sampaikan gagasan yang Anda miliki tadi.

Percayalah, meski kata bijak sering berkata “Ibarat padi, makin berisi makin merunduk“, tapi padi juga akan dipetik dan dimasak untuk diambil manfaatnya.

Otak Anda yang penuh gagasan bolehlah untuk Anda sembunyikan, tapi itu tidak akan bermanfaat manakala tak Anda sampaikan pada orang lain yang membutuhkan.

Advertisements
--------------------
Semoga artikel di atas bermanfaat ! Jika Anda memiliki pendapat berbeda atau memiliki informasi lebih akurat dari artikel di atas, silahkan berbagi disini bersama kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *